Kesadaran orang papua perluh tumbuh dengan baik, jika orang papua tidak ada kesadaran dari saat ini maka akan terjadi kehilangan segala-galanya. Orang papua melepaskan tanahnya dengan paksa karena memang ditekan oleh kekuatan Militer dan undangan-undang atas nama pembangunan Nasional. Orang non papua mau tinggal di Papua atau tidak semua tergantung pada setiap orang Papua . Karena orang non Papua tidak akan datang dan tinggal di Papua kalau tidak ada tempat dan tidak ada Tanah. Tetapi, orang papua yang memberikan tempat maka kaum migran beranak cucu di Papua sampai terjadi kawin campur. Orang papau susah protes dan berteriak karena mereka menjadi bagian dari orang Papua dan pasti kleim diri bahwa ia orang Papua mempunyai hak yang sama karena saya lahir dan darah saya mendarat di atas tanah Papua sehingga saya tidak bisa pergi dari tanah Papua yang tercinta ini.
Suatu kebiasan orang Papua yang paling buruk adalah sehabis menjual tanah tidak mau berfikir mau bangun rumah permanen, atau tidak mau jadikan modal usaha, tetapi hasil jualnnya digunakan utuk membelanjakan uang itu dengan minuman keras, togel, Judi, sehabis uangnya, kembali menjual lagi tanah sisanya. Begitulah terus menerus dan lama kelamaan tanah miliknya sudah habis. Akhirnya menjual tanah yang ada bangunan rumahnya. Akibatnya, istri dan anak-anak menjadi korban terlantar. Terjadilah pergeseran domisili secara fisik. Hal ini terjadi karena kurang adanya kesadaran tidak mengetahui masa depan anak dan istri sehingga ujung-ujung menjadi miskin dan melarat ditanahnya sendiri. Sementara orang pendatang yang tadinya membeli tanah dari dia menjadi kaya dan senyuman manis menyindir dan menyakitkan. Itulah hasil yang harus diterima akibat perbuatannya yang menganggap rendah nilai tanah alih waris sebagi hak kesulungan warisan dan titipan nenek Moyang orang Melanesia di Papua Barat ini.