Sajak sajaknya bikin orang banyak berpikir. Berpikir tentang maksud dari nyanyian yang di nyanyikan. Tetapi sebagian orang tahu maksudnya, terutama kaum perempuan. Nyanyian ini lebih banyak dinyanyikan oleh kaum laki laki (meski ada yang dinyanyikan perempuan) dan perempuan juga merasakan maksud nyanyian itu. Klo di kota dong bilang spt berpuisi untuk si gadis.. hehehehe
Tempatnya khusus, dibuat seperti panggung tetapi didalam rumah. Panggung itu spt ayunan dan semua orang menari disitu dan waktunya pada malam hari. Tempat itu dong namakan Emaa.
Tempat dong menyanyikan Ugaa (satu jenis nyanyian dari suku mee), dong menari dan pokoknya malam itu abu naik sampe pagi ( dong bergembira disitu). Laki laki maupun perempuan semua sama sama menari.
Ugaa. Dalam ugaa, berbagai hal dong ungkapkan. Mulai dari kegembiraan, harapan, keinginan untuk memiliki, dan lainnya. Namun ada ugaa untuk kutuk tetapi yang ini sudah tidak lagi di nyanyikan di Emaaida. dong lebih banyak menyanyikan ugaa untuk perempuan.
Disini tempat orang saling kenal, suka, dan bangun hubungan cinta. Yang pada akhirnya menikah dan beranak cucu.
Ketika sebuah kampung buat tempat ini (emaaida), ada maksud dan tujuannya. Dong minta kesuburan manusia, ternak, dan tumbuhan yang diakhiri dengan syukuran dan menuai hasilnya, Hasil manusia ( beranak cucu), hasil ternak ( jual babi) dan hasil kebun. Yang diakhiri dengan pesta besar, Yakni pesta Yuwo.
Pada bulan Juni lalu (2017), dikampung odima ( distrik wegebino) lakukan yowo. Saya mendengar banyak babi dipotong di sana dan ada juga yang jual. Seantero Paniai menghadiri Yuwo. Tetapi yang menjadi pertanyaan, siapa yang piara babi itu?
Saya mendengar, babi itu dibawah dari Nabire. Dong beli dengan belasan hingga puluhan juta. Hanya ada beberapa ekor babi yang dipiara dikampung. Beberapa orang Pejabat datangkan babi 10-30 an ekor, ada Sebagian masyarakat juga beli babi. Pejabat dan masyarakat sama sama beli babi. Sangat ironis.
Saat liburan Natal di Paniai, saya lihat ada beberapa emaaida. Semoga pada saat Yuwo nanti, dong menuai hasil yang baik, dong potong babi piaraan mereka sendiri, dong tra beli lagi.
Tetapi pada catatan ini, ingin saya sampaikan kalo saya belum paham setiap Ugaa yang dinyanyikan disana. Juga, katanya ada beberapa jenis ugaa dan itu semuanya saya belum tahu, dan jujur, saya tra bisa Ugaa. Harus kembali ke kampung, sekolah di sana. Biar saya ber-ugaa sama perempuan di kota.
Selamat pagi
[AK]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar