Koyamee
Poyame,
Dari debu tanah, inilah aku
Dibawah telapak kakiku bumi
beni-beni ubi dan bunga tumput
Juga nama-nama terkubur musim.
Poyame,
tanah ini bukan milkku
hutan suci semayam nenek moyang
keringat dan darah mereka yang tumpah
Itu ibu dan rahim sebua bangsa.
Poyame,
Denyut-denyut mimpi
juga tali nafas anak cucu
dendang seribu biduan dan
berlaksa-laksa kicauan burung disana,
,,Siapakah yang pantas menjadi tuan atas semuanya itu?''
Poyame , hutan ini bukan milikku
Sebatang pohon tumbang
Lalu kudengar siul sumbang seorang pemburu
yang kembali pulang dengan tangan hampa
Ia telah kehilangan
hutannya-dirinya.
Tetapi siapakah lagi yang pagi-pagi
melagukan dua di pelataran baitmu
sambil membentangkan luka orang-orang
terampas tanahnya,
yang tercerai berai dari ibunya,
dari sendiri,
dari imannya kepadamu?
Siapakah itu?
Saudarakah dia bagiku?
Tanyaku menggema berbelas siul sumbang
Pelan-pelan terus kudengar sebatang pohon tumbang
Pelang-pelang orang tak lagi punya tempat untuk pulang
Dan pelan-pelan, Di pinggir sungai yang mulai menyusut,
dari batu-batu dan laku, aku mendirikan mezbah
Menyalahkan api dan menurungkan diriku
Biaralah ia menjadi doa, menjadi korban berbau harum.
Menjadi sebuah juang,,,Tak ada perampasan lagi!,,
Poyame,
dari debu tanah, inilah aku
Tanah ini bukan milikku
Tanah ini adalah dirik,
hidupku, pemberianku.
Batavia, [27 April 2018]
~gobema~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar