Jumat, 27 April 2018

Koyamee 

Poyame, 
Dari debu tanah, inilah aku
Dibawah telapak kakiku bumi
beni-beni ubi dan bunga tumput 
Juga nama-nama terkubur musim.

Poyame,
tanah ini bukan milkku
hutan suci  semayam nenek moyang
keringat dan darah mereka yang tumpah 
Itu ibu dan rahim sebua bangsa.

Poyame,
Denyut-denyut mimpi 
juga tali nafas anak cucu
dendang seribu biduan dan
berlaksa-laksa kicauan burung disana, 
,,Siapakah yang pantas menjadi tuan atas semuanya itu?''

Poyame , hutan ini bukan milikku 
Sebatang pohon tumbang 
Lalu kudengar siul sumbang seorang pemburu
yang kembali pulang dengan tangan hampa
Ia telah kehilangan
hutannya-dirinya.

Tetapi siapakah lagi yang pagi-pagi
melagukan dua  di pelataran baitmu 
sambil membentangkan luka orang-orang 
terampas tanahnya,
yang tercerai berai dari ibunya, 
dari sendiri,
dari imannya kepadamu?

Siapakah itu?
Saudarakah dia bagiku?
Tanyaku menggema berbelas siul sumbang
Pelan-pelan terus kudengar  sebatang pohon tumbang
Pelang-pelang orang tak lagi punya tempat untuk pulang

Dan pelan-pelan, Di pinggir sungai yang mulai menyusut,
dari batu-batu  dan laku, aku mendirikan mezbah
Menyalahkan api dan menurungkan diriku 
Biaralah ia menjadi doa,  menjadi korban berbau harum.
Menjadi sebuah juang,,,Tak ada perampasan lagi!,,

Poyame,
dari debu tanah, inilah aku
Tanah ini bukan milikku 
Tanah ini adalah dirik,
hidupku, pemberianku.

Batavia, [27 April 2018]

~gobema~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar