[Oleh: Frans Boga*]
Pancasila adalah nama burung yang sudah menjadikan Ideologi bangsa Indonesia ini, dan dalamnya terkandun berbagai norma-norma (nilai), dapat mengadopsikan yang berkaitan dengan pandagan hidup berbangsa dan bernegara nilai tersebut itu dapat merumuskan para pendiri Bangsa Indonesia, seperti Ir soekarno, Hatta dan lain-lain. Oleh karena itu pancasilah serta isihnya adalah Ideologi bangsah, maka dalam dunia pendidikan Indonesia (NKRI), membuat suatu mata pelajaran dengan harapan setiap warga Negara pada umumnya warga yang dapat memperoleh pendidikan Pancasilais dan Nilai-nilai. Itu dapat mengigamkan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil, dan damai. Itu dapat menerapkan kepada sesama anak manusia, yang mencintai nilai-nilai pancasilais.
Jadi semua nilai yang dapat terkandung dalam pancasila dapat bermakna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga, para pencintai nilai pancasilais. Kepada semua orang yang akan menerima, pada khusunya mereka yang berpendidikan dalam duniapersekolahan mereka. Dan pendidikan kewargaan negara (PKN), dan dapat menerapkanya (mengimplementasikan) Dari dunia kehidupan sesama warga Negara.
Maka dalam lagu-lagu yang bernuangsah pancasila, dapat bernyayi berbagai Tanah Air, dan berbagai anak sekolah di polosok hingga kota terdegar untuk bernyayi lagu bernuangsa, lagu yang berjudul “Garuda Pancasila”dan saya pernah bernyayi pada waktu bangku sekolah SD, SMP, dan SMA. Dan lagu tersebut di luar kepala, artinya tidak lupa ketika mereka bernyayi lagu Garuda Pancasila. Maka saya juga tidak sadar bernyayi tampa kaku, kalau di suruh nyayi oleh sesama, saya bisah benyanyi lagu tersebut karena terbiasah. Sehingga nilai pancasilais sebagai jatidiri, dan warga negara yang akan mencintai nilai keadilan dan damai menurut nilai pancasilais dapat menerapkan (mengimplementasi) dalam kehidupan bersama.
Dan para penyayi Papua juga dapat ikut menyumbang karena, kecintaanya Garuda Pancasila sebagai Ideologi Negara. Karena orang Papua juga dapat bermanfaat dengan kehadiran pancasila, maka seluruh jiwa dan raga orang papua dapat merasah. Sehingga kehadiran sebagai pancasila orang Papua merasah maanfat dalam kehidupan sesama sebagai pemersatu bangsa dan cintanya akan pancasila. Maka Orang Papua menyumbang sebuah lagu yang berjudul “Yawei Garuda. Dengan melalui lagu ini sebagai suatu pujian, dan mengagungkan atas jasahnya pancasila sebagai pemersatu bangsa.
Namun penyayi papua yang menyumbang lagu Pancasila “Yaweigaruda” dengan begitu suara yang amat merdu, jika kita mendegar dan menyimak lagu tersebut. Yang berjudul “minta-minta dasar Negara Yawei Garuda Impiduamee”ini di ciptakan oleh rasa sebagai pancasilais oleh pegarang dari Papua. Maka pemerintah Indonesia dicapkan sebagaI, OPM, GPM dan Pemberontak. Sehingga pemerintah mencari tauh hingga menangkap orang Tersebut. Tangkap, Culik, dan mereka di bunuh. Padahal mereka hanya menyumbang demi memuji dan memuliakan atas jasa pemersatu bangsa yaitu: Pancasila itu. Dan saya rasa mereka tidak bermasud selain memujih jasah pancasilais dan nilai-nilai sebagai keprikemanuisan dan Keadilan bagi setiap warga Negara.
Dengan tidak hormat Nyawa-nyawa para pengarang lagu di cabut tampa di kehendak oleh Maha Kuasa dengan tidak manusiawi dan karya mereka tidak di hargai sebagai berjasa untuk memuji dan memuliakan terhadap ideologi bangsa pada khusunya pada Pancasila, disitu pemerintah Indonesia telah melakukan dosa pertama kepada penyayi bagi orang Papua. Sehingga pengalaman pehit menjadi Terluka “kolektif”bagi setiap orang Papua, walaupun penderitaan, penyiksaan dan pembunuhan tersebut itu, para pengaran lagu tentang “Yawei Garuda” saja yang dapat di alami tapi pengalaman tidak manusiawi itu, dapat di merasahkan bagi orang Papua.
Karena orang Papua orang itu terkuat dalam hidup berkomunitas sehingga, sikap “IMPATI”salah satu bagian dari Nilai pancasila itu. Dapat di terapkan dalam kehidupan bersama (palin kuat), sehingga sipak tersebut itu sulitnya untuk merubah, bagi setiap orang Papua. Dan sipak tersebut juga dapat terkandung dalam pancasila tersebut yang. Artinyta bahwa: Apa yang kami merasahkan, Mereka juga dapat merasahkan, cotohnya: kalau kelompok (wilayah) yang berduka, kelompok (wilayah) sebelah juga dapat berduka. Walaupun kematian tersebut. Keluarga satu (1), wilayah saja yang dapat di alami tapi dari wilayah selain dari itu, juga dapat berduak. Itulah namanya sikap “IMPATI. Sehingga pembunuhan yang di lakukan oleh pemerintah indonesia kepada sekelompok pegarang lagu “Yawei Garuda” saja yang di alami, tapi pembunuhan itu ikut mersaha dan berduka bagi semua orang Papua.
Jadi saya berpendapat bahwa: orang papua sudah mengores luka “kolektif”berawal dari pancasila dari orang Papua. Orang papua terasah kurang berpancasilais dengan tidak yang tidak manusia yang buat oleh pemerintah Indonesia, demi menjaga Nilai-nilai Pancasila. Sehingga lebih bagus bila tidak membahas dari setiap jejang Pendidikan mulai dari, SD, SMP dan SMA hingga Perguruan Tinggi, tentang pendidikan kewarga negara (PKN). Karena luka pertama dapat mengores bagi orang Papua Gara-gara pancasila. Itu dapat di awali dari pengaran lagu “Yawei Garuda). Yang di nyayikan oleh sekelompok mambesak atau penyayi Papua.
Sehingga kehidupan orang papua, pada hakekatnya itu menderita secara fisik dan mental, Hingga di bunuh di tembak mati. Berbagai penderitaan lain juga dapat di alami bagi setiap orang Papua dari bumi cendrawasi yang penuh dengan susu dan maduh. Dan orang Papua sedang menaruh perhatian bagi sesama Anak manusia, karena orang Papua pada saat ini menderita dari berbagai sektor maka seorang Tokoh, apa.? Siapa ? dan dari mana datangnya, suara harapan akan kehidupan masa yang akan datang yang cerah dan bangsah apa? Yang akan di memperpanjang kehidupan lagi, dan kehidupan yang akan mendapat cerah.
Kawanan domba-domba yang tersesat malah, para penggembala domba-domba di Tanah Papua, Ini lebih mudah datangnya para penjajah untuk mengambil, Alam serta rempa-rempa hingga naywa manusia atau tuan Tanah yang menjadi tarowan, demi menjaga dan merawar sebagai bertanggunjawab kepada Pemilik yaitu: Tuhan Allah, namun hal ini dapat menggalabui sehingga pelantara domba-domba lebih mudah untuk mempermainkan kepercayaan yang dimiliki bagi domba-damoba.
Dan Gereja ikut serta untuk ikut mediasi untuk memaksa kehendak bebas bagi semua orang sebagai manusia yang memiliki HAK, dan Kewajiban. Untuk hidup bebas yang di berikan oleh Allah kepada semua manusia. Saya sebagai manusia menaruh peratihan kepada para Tokoh-Tokoh Agama demi kebebasan dari tali penderitaan, namun pada Tanggal 16/02/2018. Menerima materi yang sebelumnya yang dapat di melukai gara-gara tersebut. Pimpinan agama dengan kegiatan tersebut yang di mediasi itu ditanyakan bahwa: Pertama, Apakah Tokoh-Tokoh Gereja di Tanah Papua, untuk menyelamatkan Nyawa-nyawa yang tersisa, atau Gereja berniat untuk memusnakan Nyawa yang tersisa ini lagi kh..? kedua; Gereja khatolik hadir dan bermisi dalam kehidupan umat Tuhan untuk mau membebaskan Orang Papua, dari berbagai penderitaan. Karena Gereja adalah kaki tanggan sang Pembebas Yaitu: Yesus.
Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Jayapura Papua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar